Juknis Baru BGN Picu Protes, Ratusan Relawan Demo dan Kepung Lokasi Rapat BGN di Polman
POLEWALI MANDAR, iNewsPolman.id – Ratusan relawan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, menggelar aksi unjuk rasa, Jumat (6/11/2026). Mereka memprotes petunjuk teknis (juknis) terbaru Badan Gizi Nasional (BGN) yang disebut akan berdampak pada pengurangan jumlah pekerja hingga pemangkasan penghasilan relawan.
Aksi berlangsung di Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Polewali. Massa kemudian melakukan long march menuju Hotel Al Iklas, lokasi rapat para kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bersama Koordinator Wilayah BGN Sulawesi Barat.


Dengan membawa sejumlah spanduk penolakan, para relawan mendesak BGN memberikan penjelasan terkait kebijakan efisiensi yang dinilai berpotensi mengancam mata pencaharian mereka.
Meski rapat tengah berlangsung, aspirasi massa akhirnya diterima oleh Koordinator Wilayah BGN Polewali Mandar.
Dalam penjelasannya, Koordinator Wilayah BGN Polman menyebut juknis terbaru mengatur jumlah penerima manfaat dan kebutuhan tenaga relawan di setiap dapur MBG.
SPPG yang melayani kurang dari 3.000 penerima manfaat disebut hanya diperbolehkan mempekerjakan maksimal 31 relawan.
Ketentuan tersebut berbeda dengan kondisi sebelumnya. Setiap dapur MBG diketahui dapat mempekerjakan sekitar 47 orang, bahkan lebih.
Sebagai alternatif, pengelola dapur disebut dapat menerapkan sistem pembagian sif atau giliran kerja agar relawan tetap memperoleh kesempatan bekerja. Namun, skema tersebut juga berpotensi memengaruhi pembagian jam kerja dan penghasilan para pekerja.
Koordinator Solidaritas Relawan, Santi Dwi, mengatakan kebijakan tersebut menimbulkan keresahan di kalangan pekerja dapur MBG. Menurutnya, selama ini satu dapur dapat mempekerjakan sekitar 49 relawan.
Mereka terdiri dari berbagai bagian, mulai dari tenaga persiapan makanan, pencuci ompreng, hingga petugas kebersihan.
Namun, berdasarkan informasi juknis yang diterima para relawan, jumlah pekerja berpotensi dikurangi hingga 16 orang dalam satu dapur.
"Jika aturan tersebut diterapkan, ada relawan yang harus dirumahkan. Ini yang membuat teman-teman resah dan khawatir," ungkap Santi.
Persoalan tidak hanya menyangkut jumlah tenaga kerja. Para relawan juga mempersoalkan rencana penurunan besaran penghasilan.
Santi menyebut, sebelumnya relawan menerima penghasilan sebesar Rp135.000 per orang. Namun, dalam ketentuan baru yang mereka terima, nominal tersebut kemungkinan akan turun menjadi Rp100.000.
Informasi yang diterima relawan, kebijakan tersebut rencananya mulai diberlakukan pada Senin mendatang.
Kondisi itu mendorong para pekerja mendatangi lokasi rapat BGN untuk meminta kejelasan mengenai dasar penerapan efisiensi anggaran yang berdampak langsung terhadap tenaga kerja.
"Kami hanya ingin mempertanyakan kepada BGN, atas dasar apa efisiensi anggaran ini dilakukan sehingga berdampak pada relawan, baik pengurangan jumlah pekerja maupun gaji," tegasnya.
Para relawan berharap BGN memberikan penjelasan secara terbuka dan mempertimbangkan nasib pekerja sebelum kebijakan tersebut diterapkan.
Bagi mereka, program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi puluhan pekerja di setiap dapur pelayanan.
Editor: Huzair.zainal