Golkar Bergerak! Ketua DPRD Fahry Fadly Dongkrak Harapan Baru Warga Luyo Lewat Reses 2025
POLEWALI MANDAR, iNewspolman.id — Gelombang aspirasi publik menggema dalam reses tahap ketiga Masa Persidangan Pertama Tahun 2025 yang dipimpin Ketua DPRD Polewali Mandar (Polman) Fahry Fadly di Daerah Pemilihan (Dapil) III Luyo. Selama 1–5 November 2025, Fahry turun langsung menyerap suara rakyat di Desa Mambu, Desa Luyo, dan Desa Pussui, menghadirkan forum yang hidup, terbuka, dan penuh kritik konstruktif.
Agenda resmi ini menjadi bagian dari mandat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang menegaskan peran strategis DPRD sebagai corong aspirasi sekaligus pengawal kepentingan masyarakat pada proses kebijakan daerah.
Dalam setiap titik kunjungan, warga berani bersuara lantang. Infrastruktur menjadi isu paling dominan. Desa Mambu dan Pussui menyoroti buruknya drainase dan jalur penunjang pertanian yang menghambat aktivitas ekonomi.
Keluhan seputar pendidikan, pertanian, sosial, hingga layanan keagamaan ikut mencuat dan ditampung seluruhnya dalam forum.
Di tengah diskusi, Fahry Fadly menegaskan komitmennya untuk bekerja cepat dan nyata.
“Jika ada masyarakat yang BPJS-nya tidak aktif, silakan hubungi saya. Tidak butuh waktu lama, BPJS bisa kembali aktif,” ujarnya, disambut tepuk tangan panjang warga.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh kehadiran Sekretaris Dinas Sosial Polman yang siap menindaklanjuti pengaktifan BPJS bagi warga yang terganjal kendala administratif.

Ketegangan forum meningkat ketika seorang warga bernama Nurlia mengungkapkan bahwa PKH milik orang tuanya tidak pernah diterima selama tiga tahap pencairan, padahal terdaftar sebagai penerima.
Keluhan ini langsung direspons cepat oleh Sekretaris Dinas Sosial yang membuka jalur penyelesaian data melalui verifikasi langsung di lapangan.
Kepala Desa Luyo, Muhammad Roiy, menyampaikan penghargaan kepada Ketua DPRD yang hadir tanpa jarak dan memberi ruang luas kepada warga untuk berbicara bebas.
“Silakan warga menyampaikan aspirasi agar Ketua DPRD bisa membawa kebutuhan kita ke persidangan dan mengawal aspirasi tersebut,” ujarnya.
Roiy menegaskan bahwa forum ini tidak boleh berhenti pada catatan, tetapi harus berlanjut pada kebijakan anggaran dan langkah eksekusi nyata.

Gelaran reses ini menandai bahwa ruang dialog antara rakyat dan wakil rakyat masih hidup. Suara-suara kritis yang mengalir membuktikan bahwa masyarakat percaya, dan wakil rakyat hadir untuk bekerja.
Bagi Luyo, reses ini bukan sekadar momentum mendengar keluhan. Ini adalah pintu pembuka menuju perubahan yang lebih nyata—dari infrastruktur dasar hingga layanan sosial yang menyentuh kebutuhan paling mendesak.
Ketika kritik diterjemahkan menjadi tindakan, pembangunan tidak hanya berjalan, tetapi berlari. Dari desa kecil di Luyo, harapan tumbuh bahwa perubahan besar dapat dimulai dari suara rakyat yang berani disampaikan dan ditindaklanjuti secara nyata.
Editor : Huzair.zainal